Sabtu, 03 Maret 2012

MAKALAH KEIMANAN DALAM ISLAM



Pendahuluan


Latar belakang masalah
Setiap orang yang ingin mendalami agamanya secara mendalam perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutinya. Mempelajari teologi akan memberikan seseorang keyakinan berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diumbang-ambingkan oleh perubahan zaman. Ini adalah diantara cuplikan kata- kata pendahuluan Harun Nasution di dalam bukunya “Teologi Islam”.
Teologi, adalah membahaskan ajaran dasar dari sesuatu agama, dalam istilah Arab disebut Usul al Din yaitu ajaran-ajaran dasar agama.
Teologi Islam bukan hanya membahas soal ketuhanan saja, tetapi juga membahas soal keimanan. Iman adalah masalah mendasar yang dibahas di dalam aliran pemikiran Islam. Para mutakallimin telah memberikan batasan dan pengertian yang mempunyai persamaan dan perbedaan mengenai iman.
            Perbedaan dan persamaan konsep iman diantara mutakallimin akan lebih jelas terdapat di dalam pendapat-pendapat lima aliran, yaitu:- Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Asy’ariah, dan Maturidiah. Persamaan dan perbedaan itu cukup banyak, tetapi di dalam makalah ini hanya akan disentuh dalam hal-hal yang berkaitan dengan sejarah ringkas timbulnya tentang konsep iman, kewajiban beriman dan amal, serta bertambah dan berkurangnya iman.

Rumusan masalah
1.      Apa Pengertian keimanan?
2.      Apa Faktor-faktor Yang mengurangi keimanan?
3.      Bagaimana cara meningkatkan keimanan?


Tujuan
Mengetahui keimanan dalam agama islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.




·     Pembahasan

Keimanan dalam agama Islam
Keimanan sering disalahpahami dengan 'percaya', keimanan dalam Islam diawali dengan usaha-usaha memahami kejadian dan kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan akan adanya Yang Mengatur alam semesta ini, dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan berusaha memahami esensi dari pengetahuan yang didapatkan. Keimanan dalam ajaran Islam tidak sama dengan dogma atau persangkaan tapi harus melalui ilmu dan pemahaman.

Implementasi dari sebuah keimanan seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah sangat menyukai hambanya yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam disebut sebagai akhlak mahmudah.Beberapa contoh akhlak terpuji antara lain adalah bersikap jujur, bertanggung jawab, amanah, baik hati, tawadhu, istiqomah dll. Sebagai umat islam kita mempunyai suri tauladan yang perlu untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad SAW. Ia adalah sebaik-baik manusia yang berakhlak sempurna. Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak rosul, maka ia menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-quran. Artinya rosul merupakan manusia yang menggambarkan akhlak seperti yang tertera di dalam Al-quran
[10:36] Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Adapun sikap 'percaya' didapatkan setelah memahami apa yang disampaikan oleh mu'min mubaligh serta visi konsep kehidupan yang dibawakan. Percaya dalam Qur'an selalu dalam konteks sesuatu yang ghaib, atau yang belum terrealisasi, ini artinya sifat orang yang beriman dalam tingkat paling rendah adalah mempercayai perjuangan para pembawa risalah dalam merealisasikan kondisi ideal bagi umat manusia yang dalam Qur'an disebut dengan 'surga', serta meninggalkan kondisi buruk yang diamsalkan dengan 'neraka'. 
Dalam tingkat selanjutnya orang yang beriman ikut serta dalam misi penegakkan Din Islam.
Adapun sebutan orang yang beriman adalah Mu'min
Tahap dan Tingkatan Iman serta Keyakinan
Tahap-tahap keimanan dalam Islam adalah:
  • Dibenarkan di dalam qalbu (keyakinan mendalam akan Kebenaran yang disampaikan)
  • Diikrarkan dengan lisan (menyebarkan Kebenaran)
  • Diamalkan (merealisasikan iman dengan mengikuti contoh Rasul)
Tingkatan Keyakinan akan Kebenaran (Yaqin) adalah:
  • Ilmul Yaqin (berdasarkan ilmu)
  • 'Ainul Yaqin (berdasarkan ilmu dan bukti-bukti akan Kebenaran)
  • Haqqul Yaqin (berdasarkan ilmu, bukti dan pengalaman akan Kebenaran)

Faktor-Faktor yang Mengurangi Keimanan

1. Berkurangnya iman dengan meninggalkan sifat-sifat kesempurnaanya
Disamping dalil-dalil yang menunjukkan bertambahnya keimanan adapula dalil-dalil yang menunjukkan bahwa keimanan sempurna sangat berat sehingga banyak pula dalil-dalil yang menafikan keimanan yang sempurna dari seseorang yang berbuat kemaksiatan-kemaksiatan. Allah -Subhanallahu wa Ta’ala- :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal” (Al-Anfaal:2)

Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” (Al-Hujuraat:15)

Kalimat “inna maa” merupakan “harfu hashrin” yang mengurung sesuatu pada sesuatu. Sehingga makna ayat di atas adalah; hanya saja yang dikatakan mukmin adalah orang yang berjihad dengan harta dan nyawanya, lain tidak. Atau yang disebut mukmin adalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, yang tidak demikian tidak dikatakan orang mukmin. Oleh karena itu sebagian manusia mengira dengan kaku bahwa yang tidak memiliki sifat-sifat yang tersebut di atas adalah kafir. Padahal para ulama ahli tafsir memahami bahwa yang dikurung dengan sifat-sifat tersebut adalah mukmin yang sempurna imannya, maka makna ayat diatas adalah: “Sesungguhnya seorang mukmin yang sempurna adalah….”. atau “Hanya saja mukmin hakiki adalah….:. dengan demikian orang yang tidak memiliki sifat-sifat diatas belum tentu kafir, yang pasti bukan mukmin yang sempurna imannya.

Maka jika tidak seperti yang Allah gambarkan di dalam ayat-ayat di atas ada dua kemungkinan; bisa jadi tidak memiliki keimanan alias kafir (munafiq) atau kemungkinan yang kedua, ia adalah seorang yang memiliki iman yang lemah dan tidak sempurna alias belum mencapai gambaran yang Allah sebutkan dalam ayat-ayat di atas.

Dalam ayat lainnya Allah sifatkan pula orang-orang beriman dengan rinci yaitu di awal surat Al-Mu’minuun:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (Al-Mu’minuun 1-11)

Dalam ayat di atas juga menggambarkan orang yang beriman dengan sebenar-benar keimanan, sehingga orang yang tidak khusyu shalatnya bukan berarti tidak mukmin namun tidak sempurna keimanannya. Demikian pula yang belum meninggalkan perbuatan-perbuatan laghwun, yaitu perbuatan sia-sia bukan berarti kafir, namun orang yang belum sempurna keimananya dan begitulah seterusnya. Hingga apabila mereka meninggalkan dasar-dasar keimanannya seperti membatalkan syahadat dengan syirik besar, atau membatalkan syahadat kedua dengan beriman ke[ada nabi-nabi palsu atau ingkar kepada rukun-rukun iman maka ia kafir dan hilang imannya sama sekali.

Dengan keterangan tersebut berarti kita mengenali ada dua model keimanan, yaitu; keimanan yang sempurna dan keimanan yang lemah. Sedangkan kelemahan itu relatif; ada yang dekat pada kesempurnaan, ada pula yang di bawahnya dan di bawahnya, ada pula yang sangat lemah mendekati kekufuran. Jika kita lihat ayat-ayat di atas dan kita tanyakan mana yang lebih lemah, apakah seseorang yang tidak khusyu dalam shalatnya atau yang tidak khusyu dan tidak meninggalkan perbuatan sia-sia atau seseorang yang disamping tidak khusyu, tidak meninggalkan perbuatan sia-sia juga dia jatuh ke dalam zina dan tidak menjaga kemaluannya dari yang haram. Tentunya secara fiqih, mereka yang meninggalkan sifat-sifat kesempurnaan iman berarti dia lebih jauh dari kesempurnaan dan lebih lemah imannya. Inilah yang kita namakan berkurangnya keimanan. Para ulama menyebutkan bahwa keimanan akan berkurang dengan kemaksiatan-kemaksiatan, semakin banyak kemaksiatan yang dilakukan, maka akan semakin berkurang keimanannya.

Berkata Imam Abu Utsman Ash-Shaabuni -rahimahullah- : “Di antara madzhab Ahlul-Hadits adalah bahwa iman merupakan ucapan, amalan, dan pengenalan (terhadap Allah), bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan”. (Aqidatus-Salaf wa Ashabul-Hadits, hlm:264)
Imam Ahmad -rahimahullah- pernah ditanya tentang makna bertambah dan berkurangnya iman? Kemudian beliau menjawab dengan menukilkan ucapan dengan sanadnya sampai kepada ‘Umair bin Hubaib -rahimahullah-, dia berkata: “Iman bertambah dan berkurang”. Maka dia ditanya, “Bagaimana bertambah dan berkurangnya?” Dia menjawab: “Jika kita ingat Allah, memuji-Nya, bertasbih kepada-Nya, maka demikianlah bertambahnya. Dan jika kita lalai, melupakan-Nya, menyia-nyiakan-Nya maka itulah berkurangnya”. (Aqidatus-Salaf wa Ashabul-Hadits, hlm:265-266)

Demikian pula kita katakan hadits-hadits yang menafikan keimanan dari orang yang belum mengerjakan sifat-sifat kesempurnaan iman, seperti ucapan Rasulullah -salallahu’alaihi wa sallam- : “Tidak beriman salah seorang kalian hingga engkau menyukai untuk saudaramu apa-apa yang engkau sukai dari dirimu”. (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits ini Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- memberikan syarat yang sangat berat yaitu menyukai untuk saudaranya apa yang disukai oleh dirinya, namun apakah bermakna orang yang egois yang mementingkan diri sendiri adalah kafir? Tentu tidak.

Dan sabda Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- lainnya:
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga menjadikan aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtuanya atau seluruh manusia lainnya”. (Muttafaq’alaih)
Para ulama memahami ucapan Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- “tidak beriman” adalah tidak beriman dengan keimanan yang sempurna.

2. Berkurangnya iman dengan mengerjakan dosa-dosa
Dan ucapan-ucapan Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- lainnya yang meniadakan keimanan bagi orang yang melakukan dosa-dosa tertentu:
Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!” Seseorang bertanya, “Siapakah yang tidak beriman wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu seseorang yang tetangganya merasa tidak aman karena gangguannya.” (Muttafaq’alaih)

Tentunya bukan bermakna kafir tetapi memiliki keimanan yang sempurna atau menurunnya keimanannya, yang demikian karena sudah disebutkan secara jelas di dalam Al-Quran pembatal-pembatal keimanan diantaranya kesyirikan yang besar. Dan juga telah dijelaskan bahwa dosa-dosa selain syirik masih ada kemungkinan diampuni. 
Allah -Subhanallahu wa Ta’ala- berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa:48)

3. Berkurangnya iman dengan meninggalkan cabang-cabang keimanan
Dalam riwayat yang lainnya Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- bersabda:
“Iman itu memiliki 70 lebih atau 60 lebih cabang, yang paling tinggi adalah Laa Ilaaha Illallah, yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah bagian dari iman”. (Muttafaq’alaih)

Maka di dalam hadits diatas Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa iman memiliki sekian cabang, yang paling tingginya adalah ucapan laa ilaaha illallah yang paling rendahnya adalah menghilangkan gangguan dari jalan, di samping menunjukkan bahwa perbuatan yang baik (amal shalih) termasuk dalam keimanan juga menunjukkan bahwa jika berkurang cabang tersebut maka berkurang keimanannya, sampai hilang sama sekali keimanannya. Hingga jika hilang cabang yang utama yaitu laa ilaaha illallah maka hilanglah keimanannya secara keseluruhan.

Sufyan bin ‘Uyainah -rahimahullah- berkata: “Iman mencakup ucapan dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang”. Kemudian saudaranya yaitu Ibrahim bin ‘Uyainah bertanya kepadanya: “(Apakah juga) berkurang?” Maka dia menjawab: “Diamlah kamu wahai anak kecil! Tentu saja bisa berkurang, sampai-sampai tidak bersisa sama sekali”. (Aqidatus-Salaf wa Ashabul-Hadits, hlm:270-271).


10 Langkah untuk meningkatkan keimanan

islamSetiap anak yang baru lahir mengetahui bahwa Tuhannya hanya satu yaitu Allah Swt., tidak peduli keyakinan apa yang dipeluk oleh kedua orang tuanya. Namun bukan berarti seorang anak yang lahir dengan fitrah seperti itu, atau keyakinan alami, ketika nanti dia tumbuh besar akan menjadikannya seorang Muslim yang baik dan beriman.

Sudah menjadi tugas setiap Muslim untuk menjaga dan mengevaluasi kadar keimanannya. Artinya seseorang harus secara rutin menjaga imannya dan mengamati apakah kadar keimanannya berkurang atau bertambah dan mencari tahu apa sebabnya. Seandainya kadar keimanannya berkurang, maka ia harus meningkatkannya sebelum benar-benar turun hingga bisa menghancurkan hatinya. Terdapat banyak cara untuk meningkatkan kadar keimanan seseorang dan perbuatan-perbuatan itu termasuk di dalamnya dengan memperbanyak berbuat baik dan menghindari perbuatan dosa dan menjauhi orang yang mengajak kepada perbuatan dosa itu.

Ada 10 langkah yang bisa ditempuh guna meningkatkan kadar keimanan kita:

1. Membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan begitu akan membuat hati tenang dan damai. Untuk mendapatkan manfaat yang lebih, anggap Allah sedang berbicara dengan kita. Manusia digambarkan dalam beberapa kategori di dalam Al-Qur'an; pikirkan kategori manusia seperti apa kita.

2. Menyadari kebesaran Allah Swt. Semuanya berada dalam kendali-Nya. Terdapat banyak tanda-tanda kebesaran-Nya yang bisa kita saksikan. Semua yang terjadi merupakan kehendak-Nya. Allah Swt. melihat dan mencatat segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang berada di bebatuan hitam di dalam malam yang gelap gulita tanpa sinar bulan tetap akan terlihat dan dicatat.

3. Berusahalah untuk menambah pengetahuan, setidaknya sesuatu yang dasar dalam hidup kita misalkan bagaimana berwudhu yang benar. Mengetahui makna di balik nama-nama Allah dalam asmaul husna. Orang yang bertaqwa adalah mereka yang berilmu.

4. Menghadiri majelis-majelis yang di dalamnya berisi kegiatan untuk mengingat Allah. Dalam majelis seperti itu kita akan dikelilingi oleh para malaikat.

5. Kita harus memperbanyak perbuatan baik. Satu perbuatan baik akan diikuti oleh perbuatan baik lainnya. Allah Swt. akan mempermudah jalan bagi seseorang yang melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik harus dilakukan secara terus menerus bukan cuma sesekali saja.

6. Kita harus takut akan kematian; mengingat mati akan membuat kita takut untuk berbuat kesenangan.

7. Mengingat beberapa tingkatan akhirat, contohnya ketika kita di dalam kubur, ketika kita diadili atau ketika kita di surga atau neraka.

8. Berdoa, sebagai realisasi bahwa kita membutuhkan Dia. Tundukkan diri kita dan jangan iri terdapat sesuatu yang berbau materi yang ada di dunia ini.

9. Cinta kita kepada Allah Swt. harus ditunjukkan dalam bukti nyata. Kita mengharap Allah akan menerima semua ibadah kita, dan menghindarkan kita dari berbuat dosa. Sebelum tidur, kita harus merenungkan perbuatan baik apa saja yang telah kita lakukan pada hari ini.

10. Menyadari dampak dari dosa dan ketidaktaatan- kadar keimanan seseorang akan meningkat dengan cara berbuat baik dan kadar keimanan kita akan menurun apabila berbuat maksiat. Semua yang terjadi merupakan kehendak-Nya. Ketika musibah menimpa kita- itupun berasal dari Allah Swt. Dan merupakan akibat langsung dari ketidaktaatan kita kepada-Nya.


·         PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.

Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.






1 komentar: